Di Tengah Perkebunan Karet
KBM telah selesai, pada hari itu
saya mendapat undangan rapat Uniot Protokol 0907 di Ciamis. Unit Protokol yaitu
suatu organisasi Kepramukaan yang idientik dengan Keprotokolan. Namun pada saat
itu saya sedikit kebingungan, mengingat Ciamis itu suatu kota yang cukup jauh
juga dari sekolah saya, MAN Rancah. Saya berpikir dua kali mengenai
perlengkapan saya di perjalanan. Bulu kuduk saya tidak merinding, tapi cukup
takut juga dengan poliosi. Bukan karena saya seorang penjahat atau
buronan, tapi saya tidak punya helm,
tidak ada kaca sepion, tidak ada tutup pentil, tidak ada roda, tidak ada mesin,
bahkan motornya pun tidak ada.
Semenjak saat itu saya menyadari,
betapa saya sangat membutuhkan bantuan dari orang lain. Rio, dia lah teman saya
yang pada saat itu berkenan meminjamkan sepeda motornya, berikut beserta kaca
sepionnya, tutup pentilnya, roda motornya, dan helmnya pun juga. Tak
ketinggalan teman saya yang bernama Rio itu bersedia pula meminjamkan jasanya
untuk bersedia mengantar saya, sungguh baik hati.
Kami mulai mempersiapkan
perlengkapan untuk memulai pemberangkatan menuju kota manis, dinamis,
strategis, Ciamis namanya. Kami siap berangkat, helm sudah pada posisi, bensin
sudah terisi, dompet sudah berisi, dan satu hal lagi, kami tak takut lagi
tilangan polisi.
Rancah menyaksikan keberangkatan
kami, seraya mengucapkan selamat tinggal, selamat dating Cisaga. Sepanjang
perjalanan Rancah-Cisaga, saya duduk di jok depan mengendarai Si Supra Fit yang
masih fit melaju. Sementara Rio, ia lebih memilih dibonceng dan menyerahkan komando
kepada saya untuk menjadi Nahkoda Honda Supra Fit yang berlayar bukan di
samudra.
Telah tiba kami di gerbang selamat
datang di perkebunan karet yang tak begitu panjang, masih di Cisaga. Saya yang
sedang santai mengendarai sepeda motor tiba-tiba merasakan getaran-getaran geli
di saku celana kanan saya. Oh, rupanya
Nokia tipe 1800 saya berbunyi, ada panggilan masuk. Serentak saya menghentikan
laju motor,
“Ada apa, Yan?” Tanya Rio seraya ia
turun dari motor.
“Sebentar-sebentar, ada panggilan
masuk!” Sambil saya bergeser ke jok belakang dan menyerahkan stang motor ke
Rio.
Berhubung
suara telepon tidak cukup jelas, saya membuka helm dan turun dari motor.
Tiba-tiba Rio sedikit tancap gas. Saya sedikit heran, tapi saya berpikir
positif, barangkali Rio hendak memindahkan motornya ke pinggir jalan supaya
tidak terlalu tengah. Namun, Rio semakin menjauh dan saya semakin heran.
Semakin Rio menjauh, semakin keras saya memanggilnya.
“Rio, Rio, Rio…!” Dengan nada yang
semakin tinggi.
“Waduh, Rio meninggalkan saya!”
Mengeluh.
Akhirnya,
lebih dari setengah jam saya sendirian di tengah perkebunan karet sambil
terus miss call nomor HP Rio. Tak lupa, saya juga kirim setengah lusin sms.
Setelah beberapa kali saya miss call Rio, akhirnya
telepon berhasil diangkat.
“Yan, kamu di mana? Saya baru nyadar kalau kamu
ketinggalan.” Tanya Rio dengan nafas lega setelah kaget mengetahui saya tidak
bersamanya.
“Saya masih di Perkebunan Karet Cisaga, kamu di
mana? Cepat kembali!” Jawab saya dengan penuh lega.
“Saya sudah nyampe Ciamis, saya bingung tidak tahu
harus ngambil jalan mana. Saya tanya sama kamu sampai panggil nama kamu
beberapa kali. Eh, pas saya lihat ke belakang ternyata gak ada siapa-siapa.”
Dan setelah lama menunggu, akhirnya Rio datang juga.
Motornya terhenti tepat di hadapan saya. Rio membuka helm dan mematikan
motornya. Kami saling memandang satu sama lain, dan tiba-tiba serentak kami
tertawa terbahak-bahak. “Hahahahhaaaa…!”
Penulis,
Yayan Aryanto
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar