Tampilkan postingan dengan label cerita lucu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita lucu. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Februari 2013

Cerita Lucu Ulang Tahun Si Mamah

Cerita LucuUlang Tahun Si Mamah


            Malam itu, Si Mamah dan Si Papah habis dari restoran ternama yang ada di Jakarta. Rupanya Si Papah habis neraktir makan malam Si Mamah yang kebetulan pada hari itu Si Mamah ulang tahun yang ke-32. Si Mamah yang sudah makan makanan favoritnya denga puas tampak begitu kenyang. Namun, karena Si Mamah sangat doyan makan makanan pedas akhirnya Si Mamah merasakan ada yang tidak beres dengan perutnya. Si Mamah yang pada saat itu sedang dalam perjalanan pulang bersama Si Papah dengan mobil sedan-nya yang mewah merasa sangat tidak nyaman ingin segera sampai rumah. Namun, berhubung gengsi Si Mamah tak berani membicarakan masalah perutnya yang tidak beres.
            “Pah, cepet dong bawa mobilnya!” Pinta Si Mamah.
            “Kenapa sih, Mah? Udah gak sabar ya pengen tahu hadiah dari Papah?” Tanya Si Papah.
            “Iya nih, Mamah udah gak sabar pengen cepet tahu hadiah dari Papah. Apaan sih hadiahnya?” Ngeles.
            “Ah, nanti juga tahu!” Kata Si Papah.
            Sampainya di rumah mereka segera masuk ke rumah, namun Si Mamah merasa heran karena pintu rumah ternyata tidak dikunci.
            “Loh, Pah, kok pintu rumah gak dikunci ya?” Tanya Si Mamah.
            “Ah, gak bakal ada apa-apa kok Mah, rumah kita aman.” Jawab Si Papah.
            “Mendingan kita segera ke kamar aja, hadiah dari Papah sudah menunggu di kamar.” Tambah Si Papah.
            Ketika sampai di kamar dan kamar dalam keadaan gelap, perut Si Mamah semakin terasa mules dan ingin kentut. Karena gengsi, Si Mamah mencari-cari alasan supaya tidak kentut di hadapan Si Papah.
            “Pah, kok gelap kamarnya? Mamah nyalain ya lampunya!”
            “Eh, jangan Mah! Jangan dulu! Ini sengaja supaya Mamah bisa terkejut sama hadiah dari Papah.”
            “Mm, ya udah Pah. Tapi, ambilin Mamah minum dong di dapur, Mamah haus nih!”
Ketika Si Papah ke dapur, dengan leganya Si Mamah melepas kentut.
            “Bruuuutttt…!!”
Si Papah sudah kembali membawa air minum, namun Si Mamah merasa ingin kentut lagi.
            “Pah, sebelum Papah ngasih tahu hadiahnya, tolong ambilin handuk kecil dong di kursi ruang tengah, Mamah keringetan!”
            “Dengan senang hati, Mah!”
Untuk yang kedua kalinya Si Mamah kentut.
            “Bruuuutttt….!!”
Si Papah kembali dengan membawa handuk. Namun, Si Mamah merasa mules lagi.
            “Oh ya, Pah. HP Mamah ketinggalan di mobil, tolong ambilin dong!”
Untuk yang ketiga kalinya Si Mamah kentut dan benar-benar Si Mamah merasa lega.
            “Bruuuutttt….!!”
Si Papah kembali dengan membawa Hanphone, Si Mamah ingin segera tahu hadiah apa yang iangi Si Papah berikan.
            “Pah, hadiahnya apa sih?” Tanya Si Mamah.
            “Mamah akan tahu setelah Papah nyalakan lampu.” Jawab Si Papah.
            “Cepetan dong Pah nyalain lampunya, Mamah ingin segera tahu!”
Ketika Si Papah menyalakan lampu tiba-tiba ada teriakan.
            “Kejutaaaann….!!”
Ternyata mertua dari Si Mamah dan sanak saudaranya ada di sana.
            “Loh, Mamah, Papah, Kakak Ipar, Adik Ipar, Ponakan, sejak kapan kalian ada di sini?” Tanya Si Mamah, heran.
            “Sejak kamu kentut yang pertama.” Jawab mereka.


Penulis,


Yayan Aryanto

Cerita Lucu Di Tengah Perkebunan Karet

Di Tengah Perkebunan Karet



            KBM telah selesai, pada hari itu saya mendapat undangan rapat Uniot Protokol 0907 di Ciamis. Unit Protokol yaitu suatu organisasi Kepramukaan yang idientik dengan Keprotokolan. Namun pada saat itu saya sedikit kebingungan, mengingat Ciamis itu suatu kota yang cukup jauh juga dari sekolah saya, MAN Rancah. Saya berpikir dua kali mengenai perlengkapan saya di perjalanan. Bulu kuduk saya tidak merinding, tapi cukup takut juga dengan poliosi. Bukan karena saya seorang penjahat atau buronan,  tapi saya tidak punya helm, tidak ada kaca sepion, tidak ada tutup pentil, tidak ada roda, tidak ada mesin, bahkan motornya pun tidak ada.
            Semenjak saat itu saya menyadari, betapa saya sangat membutuhkan bantuan dari orang lain. Rio, dia lah teman saya yang pada saat itu berkenan meminjamkan sepeda motornya, berikut beserta kaca sepionnya, tutup pentilnya, roda motornya, dan helmnya pun juga. Tak ketinggalan teman saya yang bernama Rio itu bersedia pula meminjamkan jasanya untuk bersedia mengantar saya, sungguh baik hati.
            Kami mulai mempersiapkan perlengkapan untuk memulai pemberangkatan menuju kota manis, dinamis, strategis, Ciamis namanya. Kami siap berangkat, helm sudah pada posisi, bensin sudah terisi, dompet sudah berisi, dan satu hal lagi, kami tak takut lagi tilangan polisi.
            Rancah menyaksikan keberangkatan kami, seraya mengucapkan selamat tinggal, selamat dating Cisaga. Sepanjang perjalanan Rancah-Cisaga, saya duduk di jok depan mengendarai Si Supra Fit yang masih fit melaju. Sementara Rio, ia lebih memilih dibonceng dan menyerahkan komando kepada saya untuk menjadi Nahkoda Honda Supra Fit yang berlayar bukan di samudra.
            Telah tiba kami di gerbang selamat datang di perkebunan karet yang tak begitu panjang, masih di Cisaga. Saya yang sedang santai mengendarai sepeda motor tiba-tiba merasakan getaran-getaran geli di saku celana kanan  saya. Oh, rupanya Nokia tipe 1800 saya berbunyi, ada panggilan masuk. Serentak saya menghentikan laju motor,
            “Ada apa, Yan?” Tanya Rio seraya ia turun dari motor.
            “Sebentar-sebentar, ada panggilan masuk!” Sambil saya bergeser ke jok belakang dan menyerahkan stang motor ke Rio.
Berhubung suara telepon tidak cukup jelas, saya membuka helm dan turun dari motor. Tiba-tiba Rio sedikit tancap gas. Saya sedikit heran, tapi saya berpikir positif, barangkali Rio hendak memindahkan motornya ke pinggir jalan supaya tidak terlalu tengah. Namun, Rio semakin menjauh dan saya semakin heran. Semakin Rio menjauh, semakin keras saya memanggilnya.
            “Rio, Rio, Rio…!” Dengan nada yang semakin tinggi.
            “Waduh, Rio meninggalkan saya!” Mengeluh.
Akhirnya,  lebih dari setengah jam saya sendirian di tengah perkebunan karet sambil terus miss call nomor HP Rio. Tak lupa, saya juga kirim setengah lusin sms.
Setelah beberapa kali saya miss call Rio, akhirnya telepon berhasil diangkat.
“Yan, kamu di mana? Saya baru nyadar kalau kamu ketinggalan.” Tanya Rio dengan nafas lega setelah kaget mengetahui saya tidak bersamanya.
“Saya masih di Perkebunan Karet Cisaga, kamu di mana? Cepat kembali!” Jawab saya dengan penuh lega.
“Saya sudah nyampe Ciamis, saya bingung tidak tahu harus ngambil jalan mana. Saya tanya sama kamu sampai panggil nama kamu beberapa kali. Eh, pas saya lihat ke belakang ternyata gak ada siapa-siapa.”
Dan setelah lama menunggu, akhirnya Rio datang juga. Motornya terhenti tepat di hadapan saya. Rio membuka helm dan mematikan motornya. Kami saling memandang satu sama lain, dan tiba-tiba serentak kami tertawa terbahak-bahak. “Hahahahhaaaa…!”


Penulis,


Yayan Aryanto