Selasa, 19 Februari 2013

Kata-kata Mutiara - words of wisdom

Ketika anda merasa suatu tempat tidak menyenangkan, mungkin sesekali anda berpikir untuk pulang. Barangkali di sana anda gembira saat ini, tapi barangkali justru anda akan merasa jauh lebih sepi.


Oleh
Yayan Aryanto


When you feel an unpleasant place, maybe you are thinking to go home occasionally. Perhaps there you happy now, but perhaps instead you will feel much more lonely.


 by
Yayan Aryanto

Wise words - The views Touching Hearts

You can tell which one touches your heart when someone is looking at you, but sometimes you can not tell if it's love or in doubt. Actually, not how you know, but how can you control it if it proves love.


by
Yayan Aryanto

The views Touching Hearts

Kata-kata Mutiara - pandangan yang menyentuh hati

Anda bisa membedakan yang mana yang menyentuh hati anda ketika seseorang memandang anda, tetapi terkadang anda tidak bisa membedakan apakah itu cinta atu keraguan. Sebetulnya bukan bagaimana anda bisa mengetahuinya, tapi bagaimana anda bisa mengendalikannya jika itu terbukti cinta.



Oleh
Yayan Aryanto

Pandangan yang Menyentuh Hati

Sabtu, 16 Februari 2013

Puisi Rindu Ayah di Surga

Rindu Ayah di Surga


Dalam sela waktu  luang
Sosok Ayah terbayang terulang
Wajah terbasah air mata terbuang
Dalam rindu ketiadaanmu

Sudah kau pergi jauh di sana
Tinggalkan ku duduk merana
Tiada lagi dapat ku jumpa
Belai kasihmu kini hampa

Terkadang bayang mengulang waktu
Pada jasadmu melimpah darah terbuju kaku
Tumpah air mataku ketika itu
Tak percaya, tak berdaya akan nasib dan takdirku

Rindu Ayah di surga
Pada jasa-jasamu ku penuh bangga
Engkau harta bagi bangsa
Kau rela derita demi bangsa

Adakah ku sepertimu?
Mampukah ku sepertimu?
Ketiadaanmu adalah ketiadaan benteng kokoh
Karena engkau telah robohs

Kepergianmu adalah gemuruh takbir
Engkau pahlawan yang tengah berakhir
Engkau prajurit perang yang menang
Demi engkau ku gantikan berjuang


Karya : Yayan Aryanto
Yan Aryanto.jpg
T.T.L. : Cilacap, 19 Februari 1995
Pesan  : Semoga puisi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan mampu menggebrak semangat Nasionalisme. Serta dapat menyentuh hati pembaca, betapa kita harus menghargai jasa-jasa seorang Ayah.

Kamis, 14 Februari 2013

Puisi Pembawa Keranjang Sampah


Tak kau anggap lelah biar lelah
Tetap kau pungut botol-botol sampah
Tak kau peduli kotoran sampah

Telah kau jadikan mata pencaharian
Menjadi kerja harian dan seharian
Hanya tuk kau dapat mengisi perut
Bahkan sesekali nasib tak turut

Tak cukup hasil yang kau dapat
Tak berbuah manfaat
Hanya sempat tuk sebiji nasi
Dan lauk basi
Yang kau peroleh dari hasil keranjang
Yang kau isi ketika terik terang
Ketika panas membakar kulit
Yang sakit

Dan ketika hujan lebat
Ketika reda datang terlambat
Malah basah baju cumpang-camping
Dan dingin datang angin samping

Tak cukup uang dari jerih payah
Hanya sekeranjang sampah
Walau kau bawa ke pelosok pinggir kota
Tak sekali kau dapat harta
Malah malang yang kau derita

Tak cukup uang dari jerih payah
Hanya barang bekas limbah
Yang tak cukup
Tuk hidup
Bahkan tanah tandus
Tempat rumah kecilmu dari kardus

Seandainya relawan
Membelas kasihmu penuh dermawan
Memberi baju-baju layak
Dan rumah tanpa sampah berserak


Karya  : Yayan Aryanto
Judul    : Pembawa Keranjang Sampah

Lihat juga puisi lainnya di sini! Tak kalah menarik

Rabu, 13 Februari 2013

Puisi Sahabat Di Upuk Timur

Sahabat Di Upuk Timur


Seiring sang surya pancarkan cahaya
Dalam kemelut kabut-kabut lembut terbangun
Embun tipis terlukis di pucuk daun
Kicau burung kecil dalam melodi teralun
                             Di upuk timur
                             Telah datang terang gemilang
                            Sahabat yang menjelang pagi
                            Telah pulang malam gelap pergi
Bumi yang buta dan gulita
Kini tak lagi
Sudah dapat dilihat mata
Jalan menuju aktivitas pagi
                            Sudah bangun petani jagung
                            Ladang telah menunggu
                            Kini bekerja tanpa lagi ragu
                            Alam sudah terang oleh sang agung


Karya   : Yayan Aryanto
Judul    : Sahabat Di Upuk Timur

Cerita Lucu Ulang Tahun Si Mamah

Cerita LucuUlang Tahun Si Mamah


            Malam itu, Si Mamah dan Si Papah habis dari restoran ternama yang ada di Jakarta. Rupanya Si Papah habis neraktir makan malam Si Mamah yang kebetulan pada hari itu Si Mamah ulang tahun yang ke-32. Si Mamah yang sudah makan makanan favoritnya denga puas tampak begitu kenyang. Namun, karena Si Mamah sangat doyan makan makanan pedas akhirnya Si Mamah merasakan ada yang tidak beres dengan perutnya. Si Mamah yang pada saat itu sedang dalam perjalanan pulang bersama Si Papah dengan mobil sedan-nya yang mewah merasa sangat tidak nyaman ingin segera sampai rumah. Namun, berhubung gengsi Si Mamah tak berani membicarakan masalah perutnya yang tidak beres.
            “Pah, cepet dong bawa mobilnya!” Pinta Si Mamah.
            “Kenapa sih, Mah? Udah gak sabar ya pengen tahu hadiah dari Papah?” Tanya Si Papah.
            “Iya nih, Mamah udah gak sabar pengen cepet tahu hadiah dari Papah. Apaan sih hadiahnya?” Ngeles.
            “Ah, nanti juga tahu!” Kata Si Papah.
            Sampainya di rumah mereka segera masuk ke rumah, namun Si Mamah merasa heran karena pintu rumah ternyata tidak dikunci.
            “Loh, Pah, kok pintu rumah gak dikunci ya?” Tanya Si Mamah.
            “Ah, gak bakal ada apa-apa kok Mah, rumah kita aman.” Jawab Si Papah.
            “Mendingan kita segera ke kamar aja, hadiah dari Papah sudah menunggu di kamar.” Tambah Si Papah.
            Ketika sampai di kamar dan kamar dalam keadaan gelap, perut Si Mamah semakin terasa mules dan ingin kentut. Karena gengsi, Si Mamah mencari-cari alasan supaya tidak kentut di hadapan Si Papah.
            “Pah, kok gelap kamarnya? Mamah nyalain ya lampunya!”
            “Eh, jangan Mah! Jangan dulu! Ini sengaja supaya Mamah bisa terkejut sama hadiah dari Papah.”
            “Mm, ya udah Pah. Tapi, ambilin Mamah minum dong di dapur, Mamah haus nih!”
Ketika Si Papah ke dapur, dengan leganya Si Mamah melepas kentut.
            “Bruuuutttt…!!”
Si Papah sudah kembali membawa air minum, namun Si Mamah merasa ingin kentut lagi.
            “Pah, sebelum Papah ngasih tahu hadiahnya, tolong ambilin handuk kecil dong di kursi ruang tengah, Mamah keringetan!”
            “Dengan senang hati, Mah!”
Untuk yang kedua kalinya Si Mamah kentut.
            “Bruuuutttt….!!”
Si Papah kembali dengan membawa handuk. Namun, Si Mamah merasa mules lagi.
            “Oh ya, Pah. HP Mamah ketinggalan di mobil, tolong ambilin dong!”
Untuk yang ketiga kalinya Si Mamah kentut dan benar-benar Si Mamah merasa lega.
            “Bruuuutttt….!!”
Si Papah kembali dengan membawa Hanphone, Si Mamah ingin segera tahu hadiah apa yang iangi Si Papah berikan.
            “Pah, hadiahnya apa sih?” Tanya Si Mamah.
            “Mamah akan tahu setelah Papah nyalakan lampu.” Jawab Si Papah.
            “Cepetan dong Pah nyalain lampunya, Mamah ingin segera tahu!”
Ketika Si Papah menyalakan lampu tiba-tiba ada teriakan.
            “Kejutaaaann….!!”
Ternyata mertua dari Si Mamah dan sanak saudaranya ada di sana.
            “Loh, Mamah, Papah, Kakak Ipar, Adik Ipar, Ponakan, sejak kapan kalian ada di sini?” Tanya Si Mamah, heran.
            “Sejak kamu kentut yang pertama.” Jawab mereka.


Penulis,


Yayan Aryanto